Des 24

KAJIAN NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TEKS TEMBANG MACAPAT (Studi Nilai Pendidikan Islam Berbasis Budaya)

Penulis: Mulyono, MA Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah UIN Malang HP. 081334691166, e-mail: mulyonouin@gmail.com/ Dimuat pada:  Artikel ini dimuat pada Jurnal El-Harakah UIN Malang Edisi  Maret 2008

 Abstract

Key Words: Values, Islamic Education, Culture, Tembang Macapat.

The main point of this research examines the contents of Islamic Education values in the texts of Tembang Macapat. Since the alim ulama, Wali Songo, Juru Dakwah, Kyai, Ustadz, the educators, the man of letters, even the intelligent, and also the experts of Javanese culture especially since the middle era (The Demak Kingdom Era) until now often put into many religious lessons and life in general as well as special education, is written and conveyed through “tembang –tembang macapat” that are an important part of Javanese Culture. Because of the difficulty in understanding those “tembang macapat”, until now there are only a few education books that refer to the alim ulama’s opinions or the previous Nusantara (archipelago) intelligent people that are conveyed through “tembang macapat”. By re-examining the Islamic Education values in “tembang macapat”, it can be used as the reference to develop the national culture values as the foundation of developing education today or in the future. So, the education that is developed in father-land cannot be separated from those culture values used as the foundation in which the perpetuity is already examined for ages.

 A. Latar Belakang Penelitian

Kalau pendidikan diakui sebagai wahana yang ampuh untuk membangun karakter bangsa, dan pembangunan karakter bangsa yang kokoh apabila bersumber pada nilai-nilai luhur dan budaya bangsa maka tentunya menjadi persoalan: bagaimana membangun pendidikan yang berbasis pada budaya bangsa agar kita betul-betul menjadi bangsa Indonesia dengan budaya sendiri, sebagaimana yang dibangun Jepang dan Cina walaupun maju namun tetap bersikukuh terhadap budaya bangsa sendiri.

Seorang petani bilang, pohon yang paling kuat tumbuh dan mampu berdaya tahan dari berbagai gangguan di bumi Nusantara apabila ditanam dari biji lokal. Namun sayang, biji lokal umumnya kecil dan kurang menarik serta lama waktunya berbuah walaupun rasanya enak, contohnya jambu. Untuk mendapatkan pohon yang kuat, cepat berbuah, buahnya enak dan besar maka satu-satunya cara adalah menanam dengan sistem okulasi/menempel antara benih pohon lokal dengan pohon dari luar (misalnya jambu Bangkok). Perumpamaan ini apabila kita tarik dalam dunia pendidikan, maka pendidikan nasional yang kuat dan cepat mencapai hasil apabila berlandaskan budaya lokal dan nasional yang sudah berkembang dan teruji secara hukum alam ratusan tahun yang lalu kemudian diokulasi/ditempel, ditransformasi (akulturasi, asimilasi) dengan berbagai sistem dan materi pendidikan dari luar negeri (Barat, Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, Australia, dsb.). Artinya kita tidak mentah-mentah begitu saja mentransfer apa yang ada di Barat dari sisi ilmu modern juga tidak begitu saja import ilmu-ilmu dan sistem pendidikan Islam dari Timur Tengah. Semuanya harus melalui proses akulturasi dan asimilasi sebagaimana keberhasilan dakwah yang dirintis oleh Wali Songo dan kaum cerdik cendekiawan tempo dulu yang telah mengislamisasikan penduduk Nusantara khususnya Jawa dalam waktu relatif singkat, karena didukung kepiawiannya dalam meracik sistem dan materi dakwah, salah satunya melalui tembang macapat.

Sebagaimana yang ditulis I Made Purna dkk (1996:3) [1] bahwa tembang macapat dengan segala kandungan isinya memiliki berbagai fungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampaian ungkapan rasa, media penggambaran suasana, penghantar teka-teki, alat pendidikan dan penyuluhan, dan sebagainya. Semuanya dapat terwadahi oleh tembang macapat, baik hal-hal yang terlihat nyata dalam bentuk tersurat, maupun kandungan-kandungan yang tersimpan (tersirat). Garapan utama penelitian ini adalah untuk meneliti kandungan nilai-nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat. Gagasan ini dilatarbelakangi pada saat peneliti diberi amanah untuk mengampu mata kuliah baru yaitu Pendidikan Seni Religius di Jurusan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah UIN Malang pada Semester Genap 2005/2006, maka peneliti menyusun buku Kumpulan Lagu yang salah satu bagian yang peneliti tulis dan ajarkan pada mahasiswa adalah tembang macapat. Pada saat pelacakan berbagai sumber tembang macapat tersebut peneliti baru menyadari betapa agungnya kandungan makna dalam tembang macapat, baik yang ditulis oleh para bangsawan, ulama dan cerdik cendekiawan, tempo dulu maupun sekarang, misalnya: Sri Paku Buana IV (1788-1820 M.) dalam Serat Wulang Reh (Brataputra), R. Ng. Ranggawarsita (1802-1873 M.) dalam Serat Wedharaga, Sultan Agung  (1613-1645 M.) dalam Serat Nitipraja,  Sri Mangkunegoro IV (1811-1881 M.) dalam Serat WedhatamaSerat Sastra Gending, Serat Menak, dan sebagainya. Dari beberapa tembang macapat yang bersumber dari Serat Babon tersebut sebagian besar sudah sangat populer di masyarakat, dikutip oleh para penulis Buku-buku Pelajaran Bahasa Daerah dan Pendidikan Seni di sekolah dan madrasah, juga sebagian sudah dikupas maknanya oleh para penulis buku-buku Budaya Jawa, salah satunya, Drs. Soesilo (pensiunan pegawai Dep. PU) dari Malang yang menulis buku: Kejawen Fhilosofi & Perilaku (2000) serta Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa (2005).  Berpijak pada ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam bukunya Megatrends 2000 (1990)[2], bahwa salah satu dari sepuluh kecenderungan kehidupan global adalah berkembangnya budaya lokal dan nasional yang berakulturasi dengan budaya global.

Dikatakan bahwa perkembangan budaya yang paling unggul dari suatu bangsa di era kesejagadan  saat ini adalah apabila bangsa tersebut mampu mengembangkan kebudayaan lokal dan nasional yang dikemas dalam trend global. Merujuk pendapat Naisbitt dan Aburdene (1990) di atas, maka untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional yang kokoh maka perlu digali nilai-nilai pendidikan yang berakar pada budaya bangsa kemudian diramu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari berbagai penjuru dunia serta dikemas dalam wujud trend global, sebagaimana yang tersurat dalam Pasal 1 ayat 2 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Salah satu upaya tersebut adalah mengkaji nilai-nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat yang merupakan bagian penting dari studi nilai pendidikan Islam berbasis budaya.

B. Rumusan Masalah Penelitian     

Penelitian ini ingin mengkaji nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat. Hal itu didasarkan pada pemikiran bahwa tembang macapat yang merupakan bagian penting budaya Nusantara khususnya Jawa mengandung nilai yang tinggi dan luhur, baik dilihat dari amanat yang tersurat maupun tersirat, penulisannya yang berbentuk sastra maupun pengungkapannya melalui tembang (lagu) serta telah mendarah daging sejak ratusan tahun silam dalam budaya masyarakat dengan berbagai ragamnya. Mengingat ketinggian nilai yang terkandung dalam tembang macapat tersebut maka dalam era kesejagadan ini penting untuk digali kembali sebagai landasan membangun bangsa yang majemuk. Karena begitu luasnya kandungan dalam tembang macapat, maka dalam penelitian ini lebih difokuskan pada tembang-tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam. Sehingga rumusan masalah yang diajukan:

(1) Apa makna yang tersurat maupun tersirat dalam teks-teks tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam?;

(2) Bagaimana relevansi nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat dengan perekembangan sistem pendidikan sekarang ini?

E. Kajian Pustaka

1. Tembang Macapat

Menurut Saputra (1992:8), macapat adalah karya sastra berbahasa Jawa baru berbentuk puisi yang disusun menurut kaidah-kaidah tertentu, meliputi guru gatra, guru lagu, guru wilangan[3]. Macapat juga merupakan salah satu bentuk seni vokal atau lagu maka disebut dengan tembang. Tembang macapat memiliki kandungan isi yang padat, simpel dan berbobot. Penyajiannya meliputi proses penggarapan yang halus, lembut, cermat dan mantap serta senantiasa memperhatikan unsur etika dan estetika[4].

Sedang Budya Pradipto (1993/1994)[5] memberi batas terhadap macapat adalah sebagai berikut: puisi tradisi Jawa yang ditembangkan secara vokal tanpa iringan instrumen apa pun dengan patokan-patokan tertentu, yang meliputi patokan tembang dengan patokan sastra. Biasanya macapat dikembangkan secara individual (perorangan), tidak secara bersama-sama (koor), sekalipun ini bisa dilaksanakan. Sebagai tembang, macapat mengenal patokan menembangkan dengan sistem umum empat suku kata, andhegan (satu kesatuan perhentian tembang) pedkotan satu kesatuan yang terdiri dari suku-suku kata), ngkatan (permulaan menembang), dan pungkaman (pengakhiran tembang).  sebagai sastra macapat . Sebagai sastra macapat mengenal patokan penulisan, dimana setiap bait macapat ditentukan/diatur oleh guru gatra (ketentuan tentang jumlah larik perbait), guru wilangan (ketentuan tentang jumlah suku kata perlarik) dan dhongdhing (ketentuan tentang jatuhnya vokal pada setiap larik). 

Dengan demikian dapat diberi pengertian bahwa tembang macapat adalah karya sastra berbahasa Jawa berbentuk puisi yang cara mengungkapannya diwujudkan dalam bentuk tembang/lagu serta disusun dengan menurut kaidah-kaidah tertentu, meliputi guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.

2. Nilai-nilai Pendidikan Islam           

Beberapa nilai yang bersifat universal yang dapat dikembangkan melalui upaya membangun etika dan religusitas di lingkungan pendidikan antara lain: (1) nilai kebangsaan/nasionalitas, (2) nilai keunggulan/kualitas, (3) nilai ketertiban dan kedisiplinan, (4) nilai keteladanan, (5) nilai saling menghargai dan toleransi, (5) nilai keadilan dan kejujuran, (6) nilai tanggungjawab, dan (7) nilai prestise atau kebanggaan.  Sedang nilai-nilai yang bersumber dari agama yang dapat dikembangkan di lingkungan pendidikan sebagaimana hasil penelitian Ekosusilo (2003)[6] di SMA Al Islam I Surakarta, antara lain: (1) nilai dasar ajaran Islam, yaitu tauhid; (2) nilai ibadah; (3) nilai kesatuan (integritas) antara dunia dan akhirat serta antara ilmu agama dan ilmu umum; (4) nilai perjuangan (jihad), (5) nilai tanggungjawab (amanah); (6) nilai keikhlasan; (7) nilai kualitas; (8) nilai kedisiplinan; (9) nilai keteladanan; (10) nilai persaudaraan dan kekeluargaan; serta (11) nilai-nilai pesantren, yaitu: kesederhanaan atau kesahajaan, tawadhu’ (rendah hati), dan sabar. 

F. Metode Penelitian           

Tentunya, guna mencapai tujuan yang dimaksud diperlukan metode dan teknik penelitian yang terpadu. Dalam hal ini, mengingat teks tembang macapat yang menjadi sumber kajian ini adalah teks sastra sekaligus lagu (vokal), maka sudah selayaknya diperlukan pendekatan filologi dan pendekatan sastra. Adapun untuk memahami nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya digunakan metode analisis isi (content analysis), yaitu suatu pendekatan yang difokuskan pada pemahaman isi pesan atau gagasan yang terkandung di dalam teks.         

PEMBAHASAN

1. Teks Tembang Macapat yang Mengandung Nilai Pendidikan Islam

Nilai-nilai secara umum yang terkadung dalam tembang macapat, antara lain:

1)            Dhandanggula, sesuai dengan namanya yang bermakna serba manis.  Tembang ini membawakan suasana yang serba manis, menyenangkan, mengasyikkan, tembang tersebut sangat tepat untuk melahirkan perasaan yang menyenangkan, menguraikan ajaran yang baik mengasyikkan dan juga mengungkapkan rasa kasih. Lukisan tentang keindahan alam pun juga digunakan dengan tembang dhandanggula.

2)          Sinom, yang bermakna muda, mengisyaratkan suasana dunia lingkungan muda remaja yang bersuasana riang, ceria, ramah, menyenangkan, melahirkan rasa cinta kasih dan menyampaikan amanat dan nasehat serta menguraikan ilmu.

3)          Kinanthi, mengandung sifat kemesraan, ungkapan rasa rindu, nasehat ringan, memaparkan perasaan riang dan sebagainya.

4)          Pangkur, mengungkapkan suasana yang memuncak, bersungguh-sungguh, ajaran yang serius atau penyampaian rasa rindu asmara.

5)          Asmaradana, mengungkapkan makna sedih, prihatin, memendam rasa rindu ataupun pernyataan rayuan.

6)          Mijil, menghantarkan suasana memberi nasehat, melahirkan perasaan sedih atau rasa rindu.

7)          Gambuh, mengandung rasa akrab. Dipakai untuk menyampaikan nasehat yang bersungguh-sungguh atau pesan yang santai, akrab.

8)          Pocung, mengetengahkan perasaan santai, kendor dalam pengertian tidak tegang, jenaka dan riang atau nasehat yang disampaikan secara akrab.

9)          Durma, bersuasana keras, kasar, tegang, mengungkapkan rasa marah, gambaran peperangan yang serba tegang atau nasehat yang keras.

10)      Megatruh, mengisyaratkan suasana yang penuh sedih, sendu, duka, penyesalan, kepedihan, hati merana dan lain-lain.

11)      Maskumambang, tembang ini melukiskan perasaan prihatin, duka, lara, iba, resah dan gundah.

12)      Jurudemung, tembang tengahan ini lazim dikelompokkan bersama tembang macapat. Bentuk tembang ini dipakai untuk menghantar suasana yang bersifat ringan, hiasan, pujian.

13)      Wirangrong, untuk merangkum suasana sedih, haru serta pengungkapan  suasana resah dan susah.

14)      Balabak, dipakai untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat jenaka dan riang.

15)      Girisa, tembang ini dipakai untuk mencerminkan suasana penuh harapan, nasehat-nasehat yang perlu dipatuhi. (Dikembangkan dari Purna dkk, 1996:6-7).

Yudayana (1984: 132), mengelompokkan tiga jenis tembang atas tembang macapat atau tembang alit, tembang tengahan dan tembang gedhe. Tembang macapat paling dikenal, banyak digemari dan mudah dipelajari. Ranggawarsita (1957:38) menyatakan bahwa macapat adalah tembang cilik. Tembang lainnya adalah tembang tengahan dan tembang gedhe. Ia mengelompokkan tembang macapat sebanyak delapan buah. Jumlah itu termasuk tembang macapat murni. Hardjawiraga (1989: 28), menggabungkan 15 tembang ke dalam kelompok tembang macapat dengan melibatkan tembang tengahan. Lima belas tembang itu adalah:

1)                 Dhandanggula               : 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a

2)                 Sinom                           : 8a, 8i, 8a, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a

3)                 Kinanthi                        : 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i

4)                 Pangkur                        : 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 5a, 8i

5)                 Asmaradana                 : 8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a

6)                 Mijil                             : 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u

7)                 Gambuh                       : 7u, 10u, 12i, 8u, 8o

8)                 Pocung                         : 12u, 6a, 8i, 8a

9)                 Durma                          : 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i

10)             Megatruh                      : 12u, 8i, 8u, 8i, 8o

11)             Maskumambang           : 12u, 6a, 8i, 8a

12)             Jurudemung                  : 8a, 8u, 8u, 8a, 8u, 8a, 8u

13)             Wirangrong                  : 8i, 8o, 10u, 6i, 7a, 8a

14)             Balabak                        : 12a, 3e, 12a, 3e, 12a, 3e

15)             Girisa                           : 8a, 8a, 8a, 8a, 8a, 8a, 8u/i/e 

Masing-masing tembang tersebut di atas memiliki sejumlah cengkok (gaya lagu). Hal ini dimungkinkan karena pola pikir kebudayaan Jawa sangat memperhatikan kepribadian orang-seorang, sehingga masing-masing individu dalam masyarakat Jawa mendapatkan harga dan nilai yang terhormat, namun tidak liberal. Dhandanggula misalnya mengenal 17 cengkok. Suratno Adiyoso menggolongkan tembang macapat dan tembang tengahan sebanyak 15 buah ke dalam satu kelompok, mengutip dari penggabungan Hardjawiraga (1989: 28). Karsono H. Saputra (1992:47) menjumlahkan jenis tembang macapat yang digabung dengan tembang tengahan sebanyak 15 tembang.[7] Sulitnya membedakan antara tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhe bagi generasi sekarang dan selanjutnya maka penulis setuju apabila semua tembang yang ada dalam sastra Jawa digabung menjadi satu dengan nama tembang macapat yang hingga ada 15 tembang sebagaimana yang dijelaskan di atas. Dari berbagai jenis tembang tersebut sebagian besar mengandung nilai-nilai pendidikan khususnya Islam.

2.       Makna Teks Tembang Macapat yang Mengandung Nilai Pendidikan Islam 

Sebagai salah satu jenis kesenian, macapat merupakan hasil karya cipta sastra yang penyampaiannya disuarakan/dilagukan. Oleh karena disuarakan maka penyajian karya itu melibatkan seni vokal dan seni karawitan, sebab penyajian vokalnya menjelajahi nada-nada suara gamelan yang berlaraskan sendro dan pelog.           

Macapat berperan di dalam kehidupan sehari-hari, untuk rengeng-rengeng, ura-ura, pengisi waktu senggang, pengankal kesepian, penawar lelah, penahan kantuk dan sebagainya. Ia menjadi salah satu bentuk ungkapan seni dan ikut serta di dalam upacara adat, misalnya:

(1) selamatan tujuh bulan kehamilan,

(2) kelahiran,

(3) khitanan,

(4) perkawinan, dan

(5) tolak balak, dan sebagainya.

Berbagai makna dan suasana yang tersurat dihantarkan oleh tembang macapat untuk menyampaikan pesan atau amanat yang terkandung. Kandungan pesan tersusun dalam bentuk ikatan kata yang hangat dan akrab tanpa mengabaikan kaidah atau patokan yang berlaku. Amanat yang tersirat dalam macapat, misalnya:

1)      Pesan orang tua kepada anak cucu seperti terungkap di dalam Serat Wulangreh, Paliatma, Sana Sunu, Warayagnya, Wulangputri, Darmaduhita, dan lain-lain.

2)      Ajaran kepada prajurit, terungkap  pada Serat Tripama dan Serat Wiraiswara.

3)      Ajaran kepada para punggawa, tersirat di dalam Serat Nayakawara.

4)      Ajaran agama yang terkandung di dalam Serat Cabolek, Dewaruci, Serat Centhini.

5)      Ajaran bagi seorang raja termuat di dalam Sastracetha dan Asthabrata serta Serat Tajussalatin.

6)      Ajaran etika tersebut di dalam Serat Wulangreh, Serat Salokadarma, Kutipan dari Babab Tanah Jawi dan lain-lain.

7)      Rayuan kepada wanita, terungkap di dalam Serat Manuhara.

8)      Pesan dalam bentuk teka-teki dan kelakar beruba tembang Pocung.

9)      Lukisan keindahan alam.

10)  Penyambutan tamu yang terlukis dalam Panembrama.

11)  Tolak balak, terungkap di dalam Serat Kidungan.

12)  Memberi berkah terdapat dalam Serat Yusuf.[8](Dikembangkan dari Purna dkk, 1996:8-9).      

Selain pesan-pesan yang tersebut di atas, tembang macapat pun mampu menyampaikan pesan yang terkandung di dalam dunia pendidikan Islam.  

3.       Relevansi Nilai Pendidikan Islam Dalam Teks Tembang Macapat Dengan Perkembangan Sistem Pendidikan Sekarang  

Contoh dua bait Tembang Dhandhanggula yang syarat mengandung nilai pendidikan, yaitu:

Pawitane wong urip puniki, pan sadasa lamun datan bisa, nistha kuciwa dadine, dhihin karem ing ngelmu, kaping kalih bisa angaji, ping tiga bisa maca, ping sakawanipun, kudu ahlul anenurat, kaping lima wignya anitih turanggi, ping name bisa beksa.(Sumber: Serat Sastra Gending). Modalnya orang hidup ini, ada sepuluh kalau ada usaha. Akan celaka kalau tidak memiliki. Bersemangat menimba ilmu. Yang kedua dapat mengaji. Ketiga dapat membaca. Yang keempatnya. Harus ahli menulis. Kelima harus lincah menunggang kuda. Keenam dapat beksa/menari. Bait selanjutnya:

 Kaping pitu kudu wruh ing gendhing, kaping wolu apan kudu bisa, tembung kawi tembang gedhe, ping sanga bisa iku, ulah yuda gelaring jurit, limpad pasanging graita, ping sadasanipun, wong urip wekasan lena, den prayitna ing pati,  pati patitis, patitis ing kamuksan.(Serat Sastra Gending) Yang ketujuh tahu terhadap gendhing/lagu. Kedelapan kalau ada kesempatan mengusahakan. Menguasai bahasa kawi bahasa gedhe (kemampuan berbahasa). Yang kesembilan kalau dapat. Keahlian perang dan keprajuritan. Terampil cekatan menggunakan pancaindera. Yang kesepuluhnya. Orang hidup akhirnya terlena. Harus mengkonsentrasikan terhadap mati yang patitis. Patitis dalam kemuksaan (husnul khotimah).

 Keterangan: dua bait tembang dhandhanggula di atas walaupun dua bait tetapi merupakan satu tema sehingga dalam menyanyikannya juga harus bersambung.           

Kalau kita menyimak dan dapat melantunkan tembang dandanggula di atas sekaligus dapat mengambil makna kandungannya baik yang tersurat maupun  tersirat, kita akan merasakan betapa agung sekaligus indah nasehat yang tertera dalam dua bait tembang di atas. Tembang di atas tidak mungkin ditulis kecuali oleh orang yang sangat arif bijaksana, ahli dalam berbagai bidang ilmu termasuk bidang seni dan keprajuritan sekaligus memahami liku-liku makna hidup. Sayang, penulis melacak sampai saat ini belum ketemu, siapa pennyusun kedua bait lagu tersebut dan dimana buku yang pertama tertulis dua bait tembang macapat tersebut. Hanya dugaan penulis hingga saat ini menduga bahwa dua bait dandanggula tersebut disusun oleh Sri Paku Buwana IV dan KGPAA Mangku Negara IV.

Kehebatan yang terkandung dalam dua bait dandanggula tersebut mengingat jauh sebelum tersusun berbagai tujuan pendidikan nasional dalam berbagai undang-undang dan peraturan, yang terakhir sebagaimana tertera dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[9].

Dalam tembang di atas ada sepuluh modal hidup ini agar bahagia dunia akhirat, barangsiapa yang tidak memilikinya akan celaka hidupnya. Kesepuluh modal hidup itu, yaitu: (1) bersemangat mencari ilmu, (2)  dapat mengaji, (3) dapat membaca, (4) dapat menulis, (5) lincah menunggang kuda, (6) dapat beksa/menari, (7) mengetahui dan ahli terhadap gendhing/lagu, (8) kalau ada kesempatan mengusahakan menguasai bahasa kawi bahasa gedhe (kemampuan berbahasa), (9) memiliki keahlian dalam bidang perang dan keprajuritan yang didukung ketrampilan dan kecekatan menggunakan pancaindera, dan (10) Harus mengkonsentrasikan terhadap mati yang patitis untuk mencapai kemuksaan (husnul khotimah).

Dalam penelitian ini juga dipaparkan satu tembang macapat dalam Serat Wulang Reh yang disusun oleh Sri Paku Buwana IV yang mengandung nilai pendidikan Islam. Makna yang tersurat maupun tersirat dalam tembang tersebut adalah nasehat betapa pentingnya memilih guru, apalagi guru yang akan dijadikan panutan tingkah laku dan pembimbing kehidupan (guru sejati), sebagaimana dalam tembang dandanggula berikut:

Nanging yen sira ngeguru kaki, Amiliha manungsa kang nyata, Ingkang becik martabate, Sarta kang wruh ing kukum, Kang ngibadah lan kang wirangi, Sukur oleh wong tapa, Iya kang wus mungkul, Tan mikir piwewehing liyan, Iku pantes sira guronana kaki, Sartane kawruhana. (Serat Wulang Reh, IS PB IV, 1788-1820).

Artinya: Apabila engkau akan berguru putraku, pilihlah orang yang betul-betul pantas/jelas, yang baik martabatnya, serta tahu dan taat pada hukum (syariat agama dan undang-undang), tekun beribadah serta menjaga kehormatannya (wira’i) takut kepada Allah dan taat kepada perintah-Nya. Syukur apabila kau dapatkan orang yang suka bertapa, yaitu orang yang sudah meninggalkan segala nafsu duniawi, dan tak mengharap pemberian dari orang lain (peserta didik). Orang yang demikian itu pantas kau jadikan guru wahai putraku sebagai sarana bertambahnya pengetahuanmu[10].                      

  Hal itu sesuai dengan pesan al-Qur’an, yaitu:

Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. S.Ali Imran: 164) 

Dari salah satu bait tembang dandanggula di atas menunjukkan bahwa tembang macapat memiliki nilai-nilai pendidikan Islam yang tinggi di samping nilai-nilai sastra maupun seninya.

J. Kesimpulan

Pertama, teks-teks tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam tercantum di hampir semua jenis tembang macapat, meliputi: Dhandanggula, (2) Sinom, (3) Kinanthi, (4) Pangkur, (5) Asmaradana, (6) Mijil, (7) Gambuh, (8) Pocung, (9) Durma, (10) Megatruh, (11) Maskumambang, (12) Jurudemung, (13) Wirangrong, (14) Balabak, dan (15) Girisa. Dari sejumlah tembang macapat yang paling banyak mengandung nilai-nilai pendidikan Islam, yaitu: Dhandandanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur  dan  Mijil. Dari sejumlah tembang Dhandanggula yang paling popular dikenal masyarakat luas yang mengandung nilai pendidikan Islam yaitu Dhandanggula. Hal itu sesuai dengan penelitian selama ini tembang dhandanggula banyak ditembangkan oleh mubaligh-mubaligh di berbagai forum pengajian.

Kedua, makna yang tersurat maupun tersirat dalam teks-teks tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam meliputi: (1) pendidikan ketauhidan, (2) pendidikan peribadatan, (3) pendidikan berfikir, (4) pendidikan perasaan/teposliro, (5) pendidikan akhlak/tingkah laku, (6) pendidikan kemasyarakatan, (7) pendidikan tentang jalan hidup, (8) pendidikan olahkanuragan,  dan (9) pendidikan berumahtangga, (10) pendidikan dalam pekerjaan, (11) pendidikan keprajuritan, keperwiraan dan olahkaprajan.

Ketiga, nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat banyak yang relevan dengan nilai pendidikan yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Hal itu mengingat bahwa sebagian besar penulis tembang macapat adalah para ulama, cerdik cendkiawan dan para sastrawan yang memiliki pemahaman Islam yang mendalam. Demikian juga nilai-nilai pendidikan yang ada dalam tembang macapat banyak yang sesuai dengan ungkapan para sahabat, ulama, maupun isi mahfudhat seperti kesungguhan dalam belajar, kesabaran, istiqomah, kerendahan hati dan sebagainya.

Serta apabila kita kaitkan dengan konsep pendidikan modern, maka kandungan makna nilai pendidikan dalam tembang macapat sangat relevan dengan 7 Kebiasaan menurut Stephen R. Covey (2002: 1-2), yaitu: (1) Jadilah Proaktif, (2) Merujuk Pada Tujuan Akhir, (3) Dahulukan Yang Utama, (4) Berpikir Menang/Menang, (5) Berusaha Untuk Memahami, (6) Wujudkan Strategi, dan (7) Mengasah Gergaji. Intinya pada first things first (dahulukan yang utama). The power principle (prinsip kebenaran).

Keempat, secara keseluruhan nilai-nilai pendidikan Islam yang termaktub dalam tembang macapat apabila dirinci maka sesuai dengan konsep pendidikan (tarbiyah) Ibnu Qayyim yang meliputi 9 sasaran, yaitu: (1) tarbiyah imaniyah (pendidikan keimanan), (2) tarbiyah ruhiyah (pendidikan ruh), (3) tarbiyah fikriyah (pendidikan berfikir), (4) tarbiyah athifiyah (pendidikan perasaan), (5) tarbiyah khuluqiyah (pendidikan akhlak), (6) tarbiyah ijtimaiyah (pendidikan kemasyarakatan), (7) tarbiyah iradiyah (pendidikan kehendak/motivasi), (8) tarbiyah badaniyah (pendidikan badan), dan (9) tarbiyah jinsiyah (pendidikan sex). Kandungan nilai pendidikan dalam tembang macapat tentunya patut dijadikan kajian dan landasan oleh para ahli pendidikan sekarang ini untuk dipadukan dengan berbagai konsep pendidikan klasik maupun modern dalam upaya mensinergiskan penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan Islam dalam upaya membangun sistem pendidikan Islam yang kokoh berakar pada budaya nasional, lokal, maupun internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1973.

Amir Rochyatmo, Tembang Macapat yang Tersurat dan Tersirat. Jakarta. Tt.

Budya Pradipta, Kehidupan Macapat di Propinsi Jawa Tengah, Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Depdikbud, 1993/1994.

Darmanto Jatman, Psikoterapi Jawa, dalam acara Seminar Nasional dan Monolog “Menjadi Indonesia dengan Budaya Sendiri” pada Rabu, 21 Maret 2007 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi UIN Malang.

Endah Susilantini, Mumfangati, Suyami, Konsep Sentral Kepengarangan KGPAA Mangkunegara IV.  Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1997.

Gericke en Roorda, Javaansch-Nederlansch Handwoordenboek, deel I & II, 1910.

Mac Donall, A Practical-Sanskrit dictionary. London: Oxford university Press, Humphrey Milford, 1924.

I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, Macapat dan Gotong Royong, Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996.

 John Naisbitt & Patricia Aburdene, Megatrends 2000. London: Sidgwick, 1990.

Karseno Saputra, Pengantar Sekar Macapat, Universitas Indonesia, 1992.

Koentjaraningrat, Sistem Gotong Royong dan Jiwa Gotong Royong, Berita antropologi, Th. IX, No. 30 Lembang antropologi FSUI dan Yayasan Perpustakaan Nasional Jakarta, 1977.

Mulyono, Kumpulan Lagu (Religius, Anak-Anak, Daerah, Campursari, Pop, Dll.), Malang: UIN Malang Fakultas Tarbiyah, 2006.

Niels Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa (Kelangsungan dan Perubahan Kulturil), Alih Bahasa, Drs. Alois A. Nugroho, Jakarta: Gramedia, 1984, Judul asli Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java, Cultural Persistence and Change. Diterbitkan oleh Singapore University Press.PJ. Zoetmulder, Melestraikan Pancasila dengan Lagu Tembang Jawa, Jakarta: BP7 Pusat, 1982.

Purwadi,  Nilai Filosofis Serat Bima Suci, Kejawen,  Jurnal Kebudayaan Jawa, Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Fakultas Bahasa Seni Universitas Negeri Yogyakarta Bekerjasama dengan Penerbit Yogyakarta, Vol. 1. No. 1 September 2005.

Rama Sudi Yatmana, Tuntunan Kagem Para Panatacara Tuwin Pamedar Sabda, Semarang: Aneka Ilmu, 1989.

Rama Sudi Yatmana, Tuntutan Kagem Para Panatacara Tuwin Pemedhar Sabda. Semarang: Aneka Ilmu, 1992.

Ronggowarsito, Wirid Hidayat Jati, gubahan R. Tanojo, Surabaya: Trimurti, tt.

Sartono Kartodirdjo, dkk. Beberapa Segi Etika dan Etiket Jawa. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Bagian Jawa.

Siti Dloyana Kusumah, dkk., Kajian Nilai Budaya Naskah Kuno Sekartaji, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Soesilo, Kejawen Fhilosofi & Perilaku. Malang: Yayasan Yusula, Cetakan Keempat, 2005.

Soesilo, Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa. Jakarta Selatan: Yayasan Yusula, 2005.

 Tim Penyusun Buku Agama PW LP Maarif NU Jawa Timur, Pendidikan Aswaja & Ke-NU-an Untuk MA/SMU/SMK Kelas 1. Surabaya: PW LP Maarif NU Jawa Timur.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional  Nomor 20 Tahun 2003. Bandung: Citra Umbara, 2003.

Zahara Idris & Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992.Hasan bin Ali Al-Hijazy, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim, Terj. Muzaidi Hasbullah (Jakarta Timur, Pustaka Al-Kausar, 2001).

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adhiem. (Mesir, Maktabah Mesir, tt)

Mulyono, MA. Ringkasan Ceramah Syekh Sudaisy di Masjid Abu Bakar Dieng Malang (Malang, 2005).

Stephen R. Covey, Living The 7 Habits (Menerapkan 7 Kebiasaan dalam Kehidupan Sehari-Hari). Alih Bahasa: Drs. Arvin Sapurna. (Jakarta, Binarupa  Aksara, 2002) 


1[1] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, Macapat dan Gotong Royong, Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996. Hal. 3

[2] John Naisbitt & Patricia Aburdene, Megatrends 2000. London: Sidgwick, 1990. 

[3] H. Karseno Saputra, Pengantar Sekar Macapat, Universitas Indonesia, 1992.Hal. 8.

[4] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, Of. Cit, Hal. 3.

[5] Budya Pradipta, Kehidupan Macapat di Propinsi Jawa Tengah, Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Depdikbud, 1993/1994.

[6] Prof. Dr. Madyo Ekosusilo, M.Pd., Ibid, Hal. 38.

[7] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, 1996, Of. Cit, Hal. 7-8.  

[8] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, 1996, Of. Cit, Hal. 8-9.

[9] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional  Nomor 20 Tahun 2003. Bandung: Citra Umbara, 2003 Hal. 7.

[10] Drs. Soesilo, Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa. Jakarta Selatan: Yayasan Yusula, 2005, Hal. 218-219.  

Des 24

APRESIASI MASYARAKAT TERHADAP FILM ISLAMI AYAT-AYAT CINTA (AAC) Penulis: Mulyono, MA. Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah dan Staf Lembaga Penelitian UIN Malang HP. 081334691166, e-mail: mulyonouin@gmail.com. Dimuat pada:  Artikel ini dimuat Jurnal El-Harakah UIN Malang Edisi Oktober 2008 

Abstracs

Keywords: appreciation, Islamic film, Ayat-Ayat Cinta

AAC film is a new phenomenon in Indonesian film industry. Since the first week of launching it in movie theatre, the film directed by Hanung Bramantyo get the great appreciation from every society, adolescent specially. AAC is not only a new motivation for the lover of Islamic fiction and the society who need the Islamic program, but also impulses the regional department-cottage, Islamic school, halaqoh, Al-Qur’an, hadist, Al-Azhar, Cairo, Scholar of Islam, Praying, mosque, and everything reek of Islamic are not behind. AAC film adapted from the best seller novel ”Ayat-Aayat Cinta” by Habiburohman El-Shyrozy that tells about the love story of  Indonesian university who studies in Egypt, Al-Azhar university. Both AAC novel and AAC film have a high missionary endeavor, therefore the Islamic culture opus has multi function, at least an entertainment and also a guidance. Consequently, it is natural that the societies will give a high appreciation for either AAC novel or AAC film.

 Pendahuluan

Kesuksesan sutradara Hanung Bramantyo mengangkat Ayat-Ayat Cinta (AAC) ke layar kaca (film) patut diacungi jempol. Novel religius best seller karya Habiburrahman El Shirazy (edisi pertama Desember 2004) tersebut berhasil disebut menjadi film bernuansa religius yang apik dan mencerahkan sehingga layak mendapatkan apresiasi masyarakat Indonesia yang begitu luas.

Film merupakan bagian penting dari karya budaya bangsa yang penggarapannya melalui serangkaian gambar yang diproyeksikan secara cepat ke layar. Rangkaian gambar ini akan memberikan ilusi pergerakan yang teratur, lancar, dan terus-menerus. Gerak dan laku yang diangkat dari kehidupan, kewajaran dalam menyampaikan dialog, adanya konflik sikap dan sifat manusiawi, adanya setting, kesatuan ide atau kejadian dan sebagainya. Ada hubungan kesamaan yang sangat jelas antara karya sastra dengan karya film, mereka bersama-sama mengangkat kehidupan ini yang satu ke atas pena dalam bentuk untaian kalimat, yang lainnya merekam leat film yang kemudian menyorotkannya ke layar perak.Film berbeda dengan pertunjukan langsung di atas panggung seperti drama (repertoire), ketoprak, ludruk, wayang orang, lawakan;  yang kemudian direkam oleh sebuah alat yang kita kenal dengan kamera.  Ada perbedaan yang sangat jelas film dengan pertunjukkan panggung; dialog, sendi atau unsur-unsur cerita dan bahan-bahan visual lainnya dimana hubungan penonton dengan apa yang ditonton sangat jelas sekali. Dalam suatu pementasan drama (teater) penonton terpisah secara emosi dari para pemain, sedangkan pada film tidaklah demikian. Hal ini dikarenakan adanya teknik pengambilan gambar, sudut angle yang berpindah-pindah, close up, cutting dan sebagainya. Di mana penonton dalam pemfokuskannya dan sudut angle (sudut pandangnya) telah dibimbing langsung oleh sutradara dan kamerawan. Kalau dalam drama ini suatu hal yang sangat mustahil. Ia bebas memfokuskan pada apa yang disaksikannya di atas pentas. Tapi ia juga tidak bebas dan hanya terikat pada satu sudut pandang saja dimana ia berada.

Louis dan Auguste Lumiere adalah dua bersaudara dari Perancis yang menciptakan film pertama dengan alat yang bernama cinematographe. Alat ini berfungsi sebagai kamera sekaligus proyektor. Mereka menampilkannya ke publik pada 28 Desember 1895. Film yang ditampilkan masih berupa adegan pendek tak bersuara (bisu) dengan jalan cerita tertulis di layar. Musik pengiring film adalah musik langsung (live) yang dimainkan oleh seorang pianis. Musik disesuaikan dengan adegan yang terjadi di layar. Apabila adegan kejar-kejaran, maka sang pianis akan memainkan musik cepat, dan sebagainya Sedangkan awalnya film menjadi sebuah industri muncul di Prancis. Perusahaan Pathe Freres sejak 1902 membuat fasilitas produksi film dan membuka agen penjualan di berbagai negara. Harus diingat saat itu panjang film masih kurang dari 1 jam per judul film (Effendy, 2002).Sejak produksi film pertama tahun 1902, film telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Apalagi sejak munculnya alat kamera yang disebut handycame maka pembuatan film semakin mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Di samping itu, film telah digunakan dalam hampir semua segi kehidupan manusia, sebagai hiburan, propaganda, menayangkan sejarah, prediksi zaman masa depan, bisnis, periklanan, politik, lingkungan hidup, pendidikan hingga sebagai alat dakwah. Di antara sekian misi yang menggunakan media film yang akhir-akhir semakin semarak adalah penggunaan film sebagai media dakwah. Di antara film yang mengandung nilai tontonan atau hiburan sekaligus tuntunan yaitu media dakwah tersebut yang sekarang lagi ngetrend adalah film Ayat-Ayat Cinta. Artikel singkat ini mengkaji tentang apresiasi  masyarakat terhadap film religius Ayat-Ayat Cinta (AAC). 

Perkembangan Film/Sinetron Islami di Indonesia

Film pertama di Indonesia dibuat pada tahun 1926 dengan judul Loetoeng Kasaroeng, namun pembuatnya masih orang Belanda. Adapun film pertama yang dibuat oleh orang Indonesia sendiri berjudul Darah dan Doa, yang diproduseri dan disutradarai oleh Usmar Ismail, pada tahun 1950. Hari Film Nasional sendiri diperingati pada 30 Maret, yang dijadikan sebagai tanggal lahirnya perusahaan film Nasional pertama (NV). Festival Film Indonesia (FFI) pertama diselenggarakan pada tanggal 5 April 1955 dengan film yang berjudul Lewat Jam Malam karya Usmar Ismail yang menjadi film terbaik. Pada tahun 1960-an, perfilman Indonesia mengalami kesulitan, akibat masuknya film impor, berkurangnya bioskop, hingga situasi politik saat itu.           

Pada dekade 1970-an, film Indonesia mengalami kegairahan kembali. Lebih dari 600 judul film diproduksi pada masa itu. Pada 1980-an, produksi film Indonesia lebih meningkat lagi menjadi lebih dari 700 judul film. Jumlah aktor dan aktris serta penonton meningkat pula. Namun film paling monumental dalam jumlah penonton adalah Penghianatan G-30S/PKI. Film ini ditonton hampir 700.000 orang (meski campur tangan pemerintah Orde Baru tidak bisa diabaikan). Pada akhir 1980-an, banyak gedung bioskop konvensional yang diubah menjadi sinepleks oleh Group 21 sebagai pemiliknya.           

Pada 1990-an, kondisi film Indonesia mengalami keterpurukan yang telah terjadi sejak akhir 1980-an. Beberapa sebab seperti menjamurnya kepemilikan video, banjirnya film impor hingga tema film yang monoton menjadi penyebabnya. Namun saat itu pula muncul Garin Nugroho sebagai sutradara Indonesia langganan festival film dunia. Pada awal abad ini, didorong kehadiran teknologi yang mempermudah orang membuat film dan tema-tema menarik, film Indonesia mulai dilirik oleh penonton. Film seperti Jelangkung, Petualangan Sherina, dan Ada Apa Dengan Cinta?, Kiamat Sudah Dekat; menjadi harapan baru akan masa depan film Indonesia.           

Di samping itu sejak pertengahan tahun 2004 televisi di Indonesia banjir dengan sinetron religius bertajuk “Ilahi’. Diawali dengan sukses TPI menayangkan serial Rahasia Ilahi, yang konon diilhami dari kisah-kisah nyata dalam majalah Hidayah, stasiun TV swasta lain kemudian mengikuti jejak TPI. SCTV dengan Astaghfirullah dan Kuasa Ilahi; Trans-TV dengan Taubat, Insyaf, dan Istighfar; Lativi dengan Azab Ilahi, Pada-Mu Ya Rabb, dan sebuah kesaksian; RCTI dengan Tuhan Ada Di Mana-mana; ANTV dengan Azab Dunia dan Jalan ke Surga; TV7 dengan Titik Nadir; dan TPI sendiri dengan Takdir Ilahi, Allah Maha Besar, dan Kehendak-Mu. (Mulyono & Habibah, 2008). Sinetron religius semacam ini ternyata mampu mendongkrak peringkat stasiun penayangnya. Rahasia Ilahi dan Takdir Ilahi, misalnya, mampu menjadi kontributor terbesar yang mendongkrak posisi TPI dari tujuh besar ke posisi tertinggi di Indonesia.           

Tak heran jika kemudian hampir semua stasiun TV menayangkan sinetron sejenis. Berdasarkan sumber cerita, sinetron itu dikategorikan menjadi dua, yaitu: Pertama, Sinetron yang didasarkan pada kisah nyata. TPI dengan Rahasia Ilahi didasarkan pada kisah yang pernah dimuat majalah Hidayah dan Allah Maha Besar didasarkan pada pengalaman nyata penceritanya. SCTV dengan Astaghfirullah didasarkan atas kisah nyata di majalah Ghaib. Trans-TV dengan Taubat mengambil cerita dari majalah Insting. Lativi dengan Azab Ilahi dan Sebuah Kesaksian didasarkan atas narasi atau kesaksian orang-orang yang mengalami atau menyaksikan langsung kejadian yang dituturkan dalam sinetron tersebut. Kedua, Sinetron yang ide ceritanya diambil dari sumber-sumber kisah klasik, terutama hadits-hadits yang dianggap sahih atau dari buku kumpulan cerita yang juga diambil dari kitab-kitab klasik. Sebagian besar hadits yang dijadikan rujukan dalam sinetron - terutama Takdir Ilahi di TPI – adalah hadits Bukhari Muslim yang dimuat dalam kitab Mi’ah Qishshah wa Qishshah fi Anis Al-Shalihin wa Samir Al-Muttaqin karya Muhammad Amin Al-Jundi Al-Muttaqin dan kitab Madarij Al-Salikin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziah.Dalam iklannya, TPI dengan jelas mengatakan bahwa Takdir Ilahi merupakan “aktualisasi dari peristiwa yang pernah terjadi di zaman Rasulullah”. Sajiannya tentu sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman dan formatnya dibuat lebih modern. Untuk lebih menyakinkan penonton, di akhir tayangan sinetron ini TPI menghadirkan seorang ahli hadits, KH. Ali Mustafa Yaqub, yang memberi penafsiran dan hikmah yang dapat diambil dari tayangan sinetron itu.Satu hal yang sama dalam kedua jenis sinetron ini adalah di akhir tayangan dihadirkan seorang kyai, da’i, atau agamawan yang dianggap dapat memberi tafsir kontekstual. Meskipun terkesan masih berupa tafsir literal dan lebih menekankan kesalehan ritual, komentar para kyai dan da’i ini agaknya menarik perhatian penonton, setidaknya dapat menambah “kepercayaan” penonton bahwa tayangan tersebut benar-benar bertujuan dakwah, bukan semata-mata bisnis.Sampai di sini sebenarnya tak ada persoalan. Bahkan sekilas sinetron-sinetron itu dapat memberi semacam kelegaan terhadap dahaga rohani yang mungkin dialami oleh sebagian orang Indonesia. Namun, jika diperhatikan lebih seksama, kita akan menjumpai beberapa kejanggalan: alur cerita yang tak logis, penulisan skenario yang terkesan mengejar waktu dan nguber setoran, dan penafsiran agama yang membuat umat terikat pada simbol-simbol formal tanpa pemaknaan lebih mendalam atas pesan-pesan kemanusiaan yang terdapat dalam setiap agama.

Dalam konteks tersebut tidak berlebihan jika dikatakan bahwa agama dalam bentuk tayangan sinetron semacam ini telah beralih fungsi menjadi ideologi dalam pengertian Marxis, yaitu sebagai penyembunyian realitas dari persoalan konkret sebenarnya yang dihadapi masyarakat. Marx memahami realitas sebagai praksis – aktivitas produktif manusia – dan ideologi sebagai penentangan terhadap praktis. Lebih jauh, Marx mengungkapkan bahwa “sumber yang sebenarnya dari aktivitas manusia adalah praksis dan bukan kesadaran” (Wibowo, 2008). Penyembunyian atau distorsi atas realitas itu kemudian dikemas sedemikian rupa dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sengaja dikutip untuk mendukung peristiwa yang ditayangkan dalam sinetron-sinetron itu. Artinya, telah terjadi semacam “manipulasi” atas teks kitab suci ketika ayat-ayat yang mendukung “pandangan – dunia” sinetron itu dikutip dan dijadikan sebagai pembenar dan pendukung. Sementara itu, ayat-ayat yang bernada lain – yang sudah pasti terdapat dalam al-Qur’an – tidak dikutip karena tak sejalan dengan “pandangan – dunia” sinetron tersebut. Namun terlepas dari semua kelemahan tersebut, hampir semua pihak sepakat bahwa perkembangan sastra, film maupun sinteron Islami sejak era 2000-an mengalami perkembangan yang pesat. Dan tentunya perkembangan ini akan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat seiring dengan perkembangan kehidupan agamis masyarakat Indonesia. 

Apresiasi Masyarakat terhadap Film Ayat-Ayat Cinta (AAC)

Novel Best Seller Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy menjadi semakin fenomenal setelah diangkat ke layar lebar pada awal 2008. Ayat-ayat Cinta yang bertema religi menjadi nafas baru bagi masyarakat Indonesia. Romantisme gaya Islam yang santun membuat film ini memiliki nilai plus dibanding film romantisme kebanyakan. Ditambah pemeran tokoh-tokoh Ayat-Ayat Cinta adalah artis dengan kualitas peran yang tak diragukan. Tak heran bila Ayat-Ayat Cinta menjadi novel dan film terlaris sepanjang sejarah Indonesia (Azizah Hefni, Gema, Edisi 34, 2008 : 3).Bagitu kentalnya nuansa religius dan tuntunan kebaikan dalam AAC, sampai-sampai Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin merekomendasikan AAC sebagai tontonan wajib umat muslim (Wibowo, 2008).

Demikian juga Presiden Susilo Bambang Yudoyono maupun Wakil Presiden, Yusuf Kalla dan sejumlah pejabat tinggi menyempatkan nonton film religius tersebut.Sebagaimana diberitakan oleh Republika (Minggu, 30 Maret 2008), air mata presiden pun menetes. ”Saya menyeka air mata berkali-kali. Pesannya sampai,” ucap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai menonton film Ayat Ayat Cinta (AAC) di Bioskop Plaza EX, Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (28/3/2008) malam. Terlepas dari cerita yang dituturkan dan cara sutradara menuangkan tulisan AAC dalam film tersebut, Presiden menyampaikan adanya satu pesan yang penting untuk dipetik. Film dari novel karya Habiburrahman El Shirazy ini memperlihatkan nilai peradaban Islam dan pendidikan.

Film ini, menurut Presiden, menunjukkan bagaimana mengapresiasikan nilai-nilai yang lebih dari sekadar simbol-simbol sehingga masyarakat dunia dapat hidup berdampingan dalam perbedaan. Ia juga menyebutkan, saat ini Indonesia bersama sejumlah negara di dunia terus berupaya membangun kebersamaan guna menghindari perpecahan.”Islam banyak disalahartikan. Ini adalah bagian pelajaran bagi semua Muslim bahwa Islam adalah peace, love, tolerance, and harmony. Islam benci kekerasan. Film ini merefleksikan hal ini,” sambung Presiden yang saat itu menonton di Studio 1 pada barisan E didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan seluruh anggota keluarganya.Dalam gelar acara menonton bareng Presiden itu, sebanyak 53 perwakilan negara sahabat, 107 undangan, dan para menteri pun ikut menyaksikan film karya sutradara Hanung Bramantyo ini. Tak ketinggalan, para pemeran dalam film itu pun hadir bersama dengan produser film Manooj Punjabi yang digawangi perusahaan MD Picture.Dalam acara itu, satu bioskop di lantai dua Plaza EX yang terdapat empat studio dan dua studio premiere dikosongkan. Namun, hanya tiga studio saja yang digunakan untuk memutar film berdurasi sekitar dua jam itu. Film pun diputar sejak pukul 20.30 WIB.Film yang bernuansa latar Timur Tengah itu dinilai Presiden merupakan karya anak bangsa yang membanggakan. SBY mengharapkan agar film ini menjadi tonggak bagi perfilman Indonesia. Dengan melihat larisnya film tersebut, pihaknya optimis dengan kebangkitan film Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (Republika, Minggu, 30 Maret 2008)

Ditambah lagi, apresiasi masyarakat cukup menggembirakan. Itu terbukti dengan penuh-sesaknya bioskop-bioskop pada pemutaran perdana film AAC sejak 28 Februari 2008. Sebagaimana diberitakan di Harian Republika (Jum’at, 07 Maret 2008) animo masyarakat di beberapa kota besar begitu tinggi. Misalnya di kota Palembang untuk menyaksikan film Ayat-ayat Cinta (AAC) memasuki hari ke delapan pemutaran film religi tersebut di jaringan bioskop 21 masih sangat ramai dan pada pertunjukan Jum’at (7/3/2008) sempat membuat tiga calon penontonnya menderita luka-luka sehingga harus dilarikan ke rumah sakit, akibat pecahnya kaca pintu bioskop 21 yang terletak di lantai lima pusat perbelanjaan Internasional Plaza (IP) Palembang.Bahkan, perempuan berjilbab yang jauh dari dunia hiburan selama ini menyempatkan diri untuk menikmati film romantis tersebut. MD Pictures menggandakan pita film itu hingga 100 kopi. Itu angka yang fantastis mengingat film Indonesia lain hanya dicetak 10-20 kopi, sementara film Hollywood 65-70 kopi! (Sinta Yudisia, 2008).            

Sepintas, film AAC sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film remaja -juga dewasa- pada umumnya. Di sana, disuguhkan tema-tema kemanusiaan, pluralisme, kesederhanaan, kesetiakawanan, serta romantisme percintaan yang mengharu biru. Hanya, film AAC mampu menampilkan romantisme percintaan yang dibesut dengan nilai-nilai ajaran Islam. (Wibowo, 2008). Sentuhan Hanung sebagai sutradara andal peraih Piala Citra 2004 dan 2007 terbukti lewat film ini. Baik dari aspek bahasa gambar yang sangat dikuasainya maupun tampilan bermacam detail yang “tertulis” menjadi terucap, atau hanya tervisualisasikan sesaat. Pemilihan semua karakter seperti pada pemeran utama Fahri, Maria, Aisha, Nurul, dan Noura yang dominan juga sangat cocok dimainkan oleh aktor dan aktrisnya. Nilai plus bahkan diperlihatkan Carrisa Putri, sosok Maria, seorang gadis yang memendam cinta kepada Fahri sebagai tokoh utama, tampak hidup dalam dirinya. Secara pasti, kehadiran film AAC memang mampu menciptakan genre dan warna baru di dunia perfilman Indonesia, khususnya film bernuansa religius. Apalagi, di tengah kejenuhan publik akan tontonan film-film religius yang digarap secara berlebih atau -dalam istilah Cak Nun- film-film religius yang justru tidak religius lantaran memangkas nilai-nilai luhur agama Islam. Mengapa demikian? Film-film religius picisan tersebut dipertontonkan sebagai media pengusir hantu, jin, setan, dan sebagainya. Bahkan, tak jarang disuguhkan pencitraan Tuhan yang kejam dan tanpa rasa welas-asih terhadap pendosa. Pencitraan tersebut berdampak buruk pada persemaian konsep teologis anak-anak, generasi muda, dan mereka yang awam terhadap agama Islam. Karena itulah, mengangkat novel AAC ke layar lebar bukanlah hal baru, termasuk di Indonesia. Jauh sebelum jaringan bioskop sebanyak sekarang, pernah diputar film Roro Mendut, Atheis, Si Doel Anak Betawi, dan Salah Asuhan. Belakangan, ada Ca Bau Kan, Eiffel I’m In Love, Jomblo, Cintapucino, dan Mereka Bilang Saya Monyet. (Wibowo, 2008). Namun dibanding dengan beberapa karya sastra yang sudah diangkat dalam layar lebar tersebut hingga saat ini film AAC nampaknya masih dianggap fenomenal karena mendapatkan apresiasi yang begitu besar dari masyarakat luas.  

Inti Cerita dan Karakter Pelaku Film AAC

Film AAC  adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah.  Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, ibunya dan saudara perempuannya.  Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah.Gambar dalam CD Film Ayat-Ayat Cinta Tersebutlah Maria Girgis (Carissa Putri). Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan mengagumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.  Lalu ada Nurul (Melanie Putria). Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.Setelah itu ada Noura. Juga tetangga yang selalu disika ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.Lalu bagaimana anak desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini? (http://www.21cineplex.com). Secara lebih rinci karakter pelaku dalam film AAC dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)      Fahri bin Abdillah, 28 th (Fedi Nuril); Mahasiswa bersahaja yang memegang teguh prinsip hidup dan kehormatannya. Cerdas dan simpatik hingga membuat beberapa gadis ‘jatuh hati’. Dihadapkan pada kejutan-kejutan menarik atas pilihan hatinya.

2)      Aisha, 25 th (Rianti Cartwright); Mahasiswi asing keturunan Jerman dan Turki, cerdas, cantik dan kaya raya. Latar belakang keluarganya yang berliku mempertemukan dirinya dengan Fahri.

3)      Maria Girgis, 26 th (Carissa Putri); Gadis Kristen Koptik yang jatuh cinta pada Islam. Dia menderita karena cinta yang teramat dalam kepada Fahri.

4)      Noura bin Bahadur, 22 th (Zaskia Adya Mecca); Siksa telah menjadi bagian dalam hidupnya. Janin yang dikandungnya menjadikannya terobsesi pada Fahri untuk menjadi ayah dari calon bayinya.

5)      Nurul binti Ja’far Abdur Razaq, 26 th (Melanie Putria); Anak kyai besar di Jawa Timur. Dengan aura yang menenangkan, kecerdasan dan kualitasnya menyatukan segala kelebihannya, dia sangat percaya diri untuk meminang Fahri sebagai suaminya.  http://www.ayatayatcintathemovie.com).

Secara rinci karakteristik dan seluruh kru film AAC (Sumber: Film AAC, http://www.21cineplex.com, Novel AAC, 2008) dapat dijelaskan sebagai berikut:  

Judul Film Ayat Ayat Cinta (AAC)
Jenis Film Drama
Sutradara Hanung Bramantyo
Produser Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Executive Produser Shania Punjabi
Co Produser Karan Mahtani
Pemeran Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa PuteriMelanie Putria, Zaskia Adya  MeccaMarini Burhan, Surya Saputra, Rudi Wowor, Leroy Osmani, Hj. Mieke Wijaya, Oka AntoraDennis Adhiswara, Sellen Fernandez
Also Starting Mochtar Sum, Sito Resmi, Amak Baldjun
Casting Sanjay Mulani, Amelia Oktavia, Ruth Damai Pakpahan
Muke-up Didin Syamsudin
Costumes Designer Retno Ratih Damayanti
Art Director Allan Sebastian
Sound Disigner Satrio Budiono, Adimolana Mahmud
Music Composer Tya Subiakto
Film Editor Sastha Sunu
Director of Photography Faozan Rizal
Screenplay Salman Aristo, Ginatri S. Noer, Habiburrahman El-Shirazy
Line Produser Ramesh Lakhiani, Tika Anggela SandyMuslich Iwid Wijaya
Penayangan pertama 28 Februari 2008
Durasi 120 menit
Setting Cerita Kairo Mesir
Bahasa  Indonesia, ada campuran Arab, Jerman, Inggris
Rumah Produksi MD Pictures Presents

 AAC Unggul dalam Festival Film Bandung (FFB) 2008

Film Ayat Ayat Cinta (AAC) ternyata tidak hanya menorehkan sensasi dalam meraup jumlah penonton. Namun, film yang diadaptasi dari novel best seller Habiburrahman El Shirazy ini menawarkan daya pikat yang besar di Festival Film Bandung (FFB) 2008. Di festival ini, dua karya Hanung Bramantyo — AAC dan Get Married — saling bersaing ketat dengan meraih sembilan nominasi, termasuk persaingan keduanya meraih gelar Film Terpuji. Eddy D Iskandar, ketua umum FFB, mengatakan film AAC dalam festival tahun ini mendapatkan sembilan nominasi. Nominasi yang didapatkan film ini adalah Film Terpuji, Editing, Penata Artistik, Penata Kamera, Penata Musik, Penulis Skenario, Sutradara, Pemeran Utama Pria, dan Pemeran Utama Wanita Terpuji. Film AAC yang hingga kini telah menembus jumlah penonton di atas 4 juta merupakan satu dari enam film nasional yang akan memperebutkan gelar Film Terpuji. Selain Get Married, para pesaing AAC adalah Kamulah Satu Satunya, Perempuan Punya Cerita, The Photograph, serta Mengejar Mas Mas. Selain enam film tadi, Aming lewat film Get Married, Dwi Sasono (Mengejar Mas Mas), Fedi Nuril (Ayat Ayat Cinta), Rafi Ahmad (Love is Cinta), Vino G Sebastian (Radit dan Jani) dan WS Rendra (Lari dari Blora) akan memperebutkan tempat terpuji untuk Pemeran Utama Pria. Sedangkan beberapa nama, seperti Acha Septriasa (Love is Cinta), Carissa Puteri (Ayat Ayat Cinta), Dina Olivia (Mengejar Mas Mas), Kirana Larasati (Claudia), Nirina Zubir (Get Married), dan Shanty (The Photograph) bersaing untuk kategori Pemeran Utama Wanita,” kata Eddy kembali mengumumkan.Selanjutnya untuk sutradara, nama-nama yang tidak asing lagi di perfilman nasional akan memperebutkan gelar Sutradara Terpuji versi FFB, yaitu Hanung Bramantyo (Ayat Ayat Cinta), Hanny R Saputra (Love is Cinta), Nan Achnas (The Photograph), Rudy Soedjarwo (Mengejar Mas Mas), Hanung Bramatyo (Get Married), dan Dimas Djayadiningrat dalam film Quickie Express (Republika, Selasa, 8 April 2008). 

AAC: Wajah Agama Tak Ketinggalan Zaman

AAC bukan hanya angin segar bagi penikmat fiksi Islam dan kalangan yang menginginkan tayangan “Islami”, ia juga impulse bahwa dunia agama seperti pesantren, madrasah, masjid, Al-Quran, hadits, Al Azhar, Kairo, ulama, dan segala sesuatu yang berbau religius bukanlah hal yang ketinggalan zaman. Bagi yang telah membaca AAC, kerinduan untuk bertemu Rasul, para sahabat, para ulama, dan tempat-tempat bersejarah kaum muslimin demikian mendesak dada. (Yudisia, 2008)

Menjadi tantangan bagi para penulis fiksi Islami, production house, dunia hiburan, dan semua pihak yang concern untuk bisa memberikan hiburan alternatif yang memiliki nilai universalitas Islam, tidak terkesan menggurui namun memiliki nilai dedaktis bagi penikmatnya. (Yudisia, 2008)Film Walisongo, misalnya, tidak meledak karena penonton merasa jauh di luar bioskop dan hadir di majelis pengajian yang bertele-tele. Berbeda dengan AAC. Kebutuhan pemirsa kepada Islam, Rasulullah dan ulama, serta Al-Quran dan hadits justru dimunculkan dengan sentuhan indah semacam itu. Setelah keberhasilan film AAC, mata bangsa ini terbuka, diharapkan baik sutradara, produser, maupun production house tidak lagi alergi memproduksi tema-tema Islam yang sangat beragam bentuknya (Yudisia, 2008).

Sebagaimana pendapat Deddy Mizwar bahwa kecenderungan masyarakat Indonesia kurang menyenangi terhadap tayangan televisi yang bermutu. Karena itu secara umum tayangan film/sinetron yang bermutu tidak banyak ditonton di televisi. Untuk itu, pembuatan film dan sinetron yang mengandung nilai-nilai religius dan pendidikan yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sekaligus disenangi oleh penonton dari berbagai lapisan masyarakat seperti halnya kesuksesan film AAC tersebut patut didukung dan perlu mendapatkan apresiasi dari semua pihak termasuk kalangan akademis perguruan tinggi.

Penutup

Terlepas dari beberapa kekurangan yang antara lain bobot pembuatan film AAC tidak sejajar dengan nilai dakwah yang dikandung dalam novel aslinya, namun hal itu tidak mengurangi apresiasi masyarakat terhadap karya film Islami tersebut. Dengan film AAC tersebut, Presiden SBY mengatakan bahwa sudah menjadi kewajiban seluruh umat Islam untuk menjelaskan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, penuh toleransi dan harmoni.  Menurutnya, film terbaru karya sutradara muda Hanung Bramantyo itu merupakan salah satu cerminan mengenai Islam, mengenai bagaimana mengapresiasi nila-nilai lebih dari sekedar simbol-simbol sehingga masyarakat dunia dapat hidup berdampingan dalam perbedaan.Kepala Negara menegaskan bahwa sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menghindari benturan peradaban dan menjembatani perbedaan karena ada keperluan untuk menyatukan persamaan guna menghadapi tantangan global. Disebutkan juga bahwa saat ini Indonesia bersama sejumlah negara di dunia terus berupaya membangun kebersamaan guna menghindari perpecahan.

Pada kesempatan itu Presiden juga berharap agar film tersebut dapat menjadi tonggak baru kebangkitan dunia perfilman nasional sehingga film dalam negeri dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Menurut penilaian Presisden, Film AAC merupakan suatu economic creative, produk budaya dan merupakan suatu tumbuh kembang untuk menjadi sumber ekonomi baru di abad 21. Presiden berharap di masa mendatang akan hadir lebih banyak karya-karya seni yang luhur di Indonesia. Kepala Negara juga menyampaikan pujian terhadap sutradara, produser dan seluruh pemain film yang telah menghasilkan karya itu.Pembuatan film ternyata pekerjaan yang perlu persiapan yang matang sejak ide dan sumber cerita, penyusunan cerita dalam bentuk skenario film hingga shoting yang melibatkan banyak orang yang memiliki keahlian masing-masing. Alur cerita, setting, keseriusan, dan kerja sama semua pihak merupakan modal penting dalam pembuatan film yang berbobot sebagaimana kesuksesan film AAC sehingga memiliki multi fungsi, minimal selain sebagai media tontonan (hiburan) sekaligus sebagai media tuntunan (pendidikan dan dakwah).   

Daftar Pustaka

Aries, Maspril, 2008. Film Ayat-ayat Cinta Telan Tiga Korban. Laporan pada  Jumat, 07 Maret 2008  20:35:00. http://www.republika.co.id/ Diakses, Sabtu, 8 Maret 2008.

Effendy, Heru, 2002. Mari Membuat Film (Panduan Untuk Menjadi Produser). Yogyakarta:  Panduan.Habiburrahman El Shirazy, 2008. Ayat Ayat Cinta. Jakarta Selatan: Republika. http://www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1819), Diakses Sabtu, 17-5-2008.

http://www.ayatayatcintathemovie.com/ Diakses, Sabtu, 17-5-2008.

http://www.republika.co.id/mypustaka/buku_detail.asp?id=44, Diakses, Sabtu, 17-5-2008.

Mulyono & Nurul Habibah, 2008. The Power Religious Of Art - Seni Pementasan Religius: Tari, Drama, Teater, Film dan Sinetron Islami. Draff Buku. Malang: Lemlit UIN Malang.

Republika, Ayat Ayat Cinta dan Get Married Bersaing di FFB, Selasa, 08 April 2008.

Republika, Minggu, 30 Maret 2008

Republika,  Presiden Nilai Film Ayat-ayat Cinta Dapat Jadi Media Siar Islam. Sabtu,  29 Maret 2008.

Tabloid Gema UIN Malang, Edisi 34, Maret-April 2008

Wibowo, Agus, 2008. Dilema Film Ayat-Ayat Cinta. http://www.jawapos.co.id/. Diakses, Sabtu, 8 Maret 2008.

Yudisia, Sinta, 2008. AAC: Wajah Pesantren Tak Ketinggalan Zaman. http://www.jawapos.co.id/. Diakses, Sabtu, 8 Maret 2008.

Des 24

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

mulyono2009.blogdetik.com/