KAJIAN NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TEKS TEMBANG MACAPAT (Studi Nilai Pendidikan Islam Berbasis Budaya)
KAJIAN NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TEKS TEMBANG MACAPAT (Studi Nilai Pendidikan Islam Berbasis Budaya)
Penulis: Mulyono, MA Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah UIN Malang HP. 081334691166, e-mail: mulyonouin@gmail.com/ Dimuat pada: Artikel ini dimuat pada Jurnal El-Harakah UIN Malang Edisi Maret 2008
Abstract
Key Words: Values, Islamic Education, Culture, Tembang Macapat.
The main point of this research examines the contents of Islamic Education values in the texts of Tembang Macapat. Since the alim ulama, Wali Songo, Juru Dakwah, Kyai, Ustadz, the educators, the man of letters, even the intelligent, and also the experts of Javanese culture especially since the middle era (The Demak Kingdom Era) until now often put into many religious lessons and life in general as well as special education, is written and conveyed through “tembang –tembang macapat” that are an important part of Javanese Culture. Because of the difficulty in understanding those “tembang macapat”, until now there are only a few education books that refer to the alim ulama’s opinions or the previous Nusantara (archipelago) intelligent people that are conveyed through “tembang macapat”. By re-examining the Islamic Education values in “tembang macapat”, it can be used as the reference to develop the national culture values as the foundation of developing education today or in the future. So, the education that is developed in father-land cannot be separated from those culture values used as the foundation in which the perpetuity is already examined for ages.
A. Latar Belakang Penelitian
Kalau pendidikan diakui sebagai wahana yang ampuh untuk membangun karakter bangsa, dan pembangunan karakter bangsa yang kokoh apabila bersumber pada nilai-nilai luhur dan budaya bangsa maka tentunya menjadi persoalan: bagaimana membangun pendidikan yang berbasis pada budaya bangsa agar kita betul-betul menjadi bangsa Indonesia dengan budaya sendiri, sebagaimana yang dibangun Jepang dan Cina walaupun maju namun tetap bersikukuh terhadap budaya bangsa sendiri.
Seorang petani bilang, pohon yang paling kuat tumbuh dan mampu berdaya tahan dari berbagai gangguan di bumi Nusantara apabila ditanam dari biji lokal. Namun sayang, biji lokal umumnya kecil dan kurang menarik serta lama waktunya berbuah walaupun rasanya enak, contohnya jambu. Untuk mendapatkan pohon yang kuat, cepat berbuah, buahnya enak dan besar maka satu-satunya cara adalah menanam dengan sistem okulasi/menempel antara benih pohon lokal dengan pohon dari luar (misalnya jambu Bangkok). Perumpamaan ini apabila kita tarik dalam dunia pendidikan, maka pendidikan nasional yang kuat dan cepat mencapai hasil apabila berlandaskan budaya lokal dan nasional yang sudah berkembang dan teruji secara hukum alam ratusan tahun yang lalu kemudian diokulasi/ditempel, ditransformasi (akulturasi, asimilasi) dengan berbagai sistem dan materi pendidikan dari luar negeri (Barat, Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, Australia, dsb.). Artinya kita tidak mentah-mentah begitu saja mentransfer apa yang ada di Barat dari sisi ilmu modern juga tidak begitu saja import ilmu-ilmu dan sistem pendidikan Islam dari Timur Tengah. Semuanya harus melalui proses akulturasi dan asimilasi sebagaimana keberhasilan dakwah yang dirintis oleh Wali Songo dan kaum cerdik cendekiawan tempo dulu yang telah mengislamisasikan penduduk Nusantara khususnya Jawa dalam waktu relatif singkat, karena didukung kepiawiannya dalam meracik sistem dan materi dakwah, salah satunya melalui tembang macapat.
Sebagaimana yang ditulis I Made Purna dkk (1996:3) [1] bahwa tembang macapat dengan segala kandungan isinya memiliki berbagai fungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampaian ungkapan rasa, media penggambaran suasana, penghantar teka-teki, alat pendidikan dan penyuluhan, dan sebagainya. Semuanya dapat terwadahi oleh tembang macapat, baik hal-hal yang terlihat nyata dalam bentuk tersurat, maupun kandungan-kandungan yang tersimpan (tersirat). Garapan utama penelitian ini adalah untuk meneliti kandungan nilai-nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat. Gagasan ini dilatarbelakangi pada saat peneliti diberi amanah untuk mengampu mata kuliah baru yaitu Pendidikan Seni Religius di Jurusan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah UIN Malang pada Semester Genap 2005/2006, maka peneliti menyusun buku Kumpulan Lagu yang salah satu bagian yang peneliti tulis dan ajarkan pada mahasiswa adalah tembang macapat. Pada saat pelacakan berbagai sumber tembang macapat tersebut peneliti baru menyadari betapa agungnya kandungan makna dalam tembang macapat, baik yang ditulis oleh para bangsawan, ulama dan cerdik cendekiawan, tempo dulu maupun sekarang, misalnya: Sri Paku Buana IV (1788-1820 M.) dalam Serat Wulang Reh (Brataputra), R. Ng. Ranggawarsita (1802-1873 M.) dalam Serat Wedharaga, Sultan Agung (1613-1645 M.) dalam Serat Nitipraja, Sri Mangkunegoro IV (1811-1881 M.) dalam Serat Wedhatama, Serat Sastra Gending, Serat Menak, dan sebagainya. Dari beberapa tembang macapat yang bersumber dari Serat Babon tersebut sebagian besar sudah sangat populer di masyarakat, dikutip oleh para penulis Buku-buku Pelajaran Bahasa Daerah dan Pendidikan Seni di sekolah dan madrasah, juga sebagian sudah dikupas maknanya oleh para penulis buku-buku Budaya Jawa, salah satunya, Drs. Soesilo (pensiunan pegawai Dep. PU) dari Malang yang menulis buku: Kejawen Fhilosofi & Perilaku (2000) serta Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa (2005). Berpijak pada ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam bukunya Megatrends 2000 (1990)[2], bahwa salah satu dari sepuluh kecenderungan kehidupan global adalah berkembangnya budaya lokal dan nasional yang berakulturasi dengan budaya global.
Dikatakan bahwa perkembangan budaya yang paling unggul dari suatu bangsa di era kesejagadan saat ini adalah apabila bangsa tersebut mampu mengembangkan kebudayaan lokal dan nasional yang dikemas dalam trend global. Merujuk pendapat Naisbitt dan Aburdene (1990) di atas, maka untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional yang kokoh maka perlu digali nilai-nilai pendidikan yang berakar pada budaya bangsa kemudian diramu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari berbagai penjuru dunia serta dikemas dalam wujud trend global, sebagaimana yang tersurat dalam Pasal 1 ayat 2 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Salah satu upaya tersebut adalah mengkaji nilai-nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat yang merupakan bagian penting dari studi nilai pendidikan Islam berbasis budaya.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Penelitian ini ingin mengkaji nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat. Hal itu didasarkan pada pemikiran bahwa tembang macapat yang merupakan bagian penting budaya Nusantara khususnya Jawa mengandung nilai yang tinggi dan luhur, baik dilihat dari amanat yang tersurat maupun tersirat, penulisannya yang berbentuk sastra maupun pengungkapannya melalui tembang (lagu) serta telah mendarah daging sejak ratusan tahun silam dalam budaya masyarakat dengan berbagai ragamnya. Mengingat ketinggian nilai yang terkandung dalam tembang macapat tersebut maka dalam era kesejagadan ini penting untuk digali kembali sebagai landasan membangun bangsa yang majemuk. Karena begitu luasnya kandungan dalam tembang macapat, maka dalam penelitian ini lebih difokuskan pada tembang-tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam. Sehingga rumusan masalah yang diajukan:
(1) Apa makna yang tersurat maupun tersirat dalam teks-teks tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam?;
(2) Bagaimana relevansi nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat dengan perekembangan sistem pendidikan sekarang ini?
E. Kajian Pustaka
1. Tembang Macapat
Menurut Saputra (1992:8), macapat adalah karya sastra berbahasa Jawa baru berbentuk puisi yang disusun menurut kaidah-kaidah tertentu, meliputi guru gatra, guru lagu, guru wilangan[3]. Macapat juga merupakan salah satu bentuk seni vokal atau lagu maka disebut dengan tembang. Tembang macapat memiliki kandungan isi yang padat, simpel dan berbobot. Penyajiannya meliputi proses penggarapan yang halus, lembut, cermat dan mantap serta senantiasa memperhatikan unsur etika dan estetika[4].
Sedang Budya Pradipto (1993/1994)[5] memberi batas terhadap macapat adalah sebagai berikut: puisi tradisi Jawa yang ditembangkan secara vokal tanpa iringan instrumen apa pun dengan patokan-patokan tertentu, yang meliputi patokan tembang dengan patokan sastra. Biasanya macapat dikembangkan secara individual (perorangan), tidak secara bersama-sama (koor), sekalipun ini bisa dilaksanakan. Sebagai tembang, macapat mengenal patokan menembangkan dengan sistem umum empat suku kata, andhegan (satu kesatuan perhentian tembang) pedkotan satu kesatuan yang terdiri dari suku-suku kata), ngkatan (permulaan menembang), dan pungkaman (pengakhiran tembang). sebagai sastra macapat . Sebagai sastra macapat mengenal patokan penulisan, dimana setiap bait macapat ditentukan/diatur oleh guru gatra (ketentuan tentang jumlah larik perbait), guru wilangan (ketentuan tentang jumlah suku kata perlarik) dan dhongdhing (ketentuan tentang jatuhnya vokal pada setiap larik).
Dengan demikian dapat diberi pengertian bahwa tembang macapat adalah karya sastra berbahasa Jawa berbentuk puisi yang cara mengungkapannya diwujudkan dalam bentuk tembang/lagu serta disusun dengan menurut kaidah-kaidah tertentu, meliputi guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.
2. Nilai-nilai Pendidikan Islam
Beberapa nilai yang bersifat universal yang dapat dikembangkan melalui upaya membangun etika dan religusitas di lingkungan pendidikan antara lain: (1) nilai kebangsaan/nasionalitas, (2) nilai keunggulan/kualitas, (3) nilai ketertiban dan kedisiplinan, (4) nilai keteladanan, (5) nilai saling menghargai dan toleransi, (5) nilai keadilan dan kejujuran, (6) nilai tanggungjawab, dan (7) nilai prestise atau kebanggaan. Sedang nilai-nilai yang bersumber dari agama yang dapat dikembangkan di lingkungan pendidikan sebagaimana hasil penelitian Ekosusilo (2003)[6] di SMA Al Islam I Surakarta, antara lain: (1) nilai dasar ajaran Islam, yaitu tauhid; (2) nilai ibadah; (3) nilai kesatuan (integritas) antara dunia dan akhirat serta antara ilmu agama dan ilmu umum; (4) nilai perjuangan (jihad), (5) nilai tanggungjawab (amanah); (6) nilai keikhlasan; (7) nilai kualitas; (8) nilai kedisiplinan; (9) nilai keteladanan; (10) nilai persaudaraan dan kekeluargaan; serta (11) nilai-nilai pesantren, yaitu: kesederhanaan atau kesahajaan, tawadhu’ (rendah hati), dan sabar.
F. Metode Penelitian
Tentunya, guna mencapai tujuan yang dimaksud diperlukan metode dan teknik penelitian yang terpadu. Dalam hal ini, mengingat teks tembang macapat yang menjadi sumber kajian ini adalah teks sastra sekaligus lagu (vokal), maka sudah selayaknya diperlukan pendekatan filologi dan pendekatan sastra. Adapun untuk memahami nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya digunakan metode analisis isi (content analysis), yaitu suatu pendekatan yang difokuskan pada pemahaman isi pesan atau gagasan yang terkandung di dalam teks.
PEMBAHASAN
1. Teks Tembang Macapat yang Mengandung Nilai Pendidikan Islam
Nilai-nilai secara umum yang terkadung dalam tembang macapat, antara lain:
1) Dhandanggula, sesuai dengan namanya yang bermakna serba manis. Tembang ini membawakan suasana yang serba manis, menyenangkan, mengasyikkan, tembang tersebut sangat tepat untuk melahirkan perasaan yang menyenangkan, menguraikan ajaran yang baik mengasyikkan dan juga mengungkapkan rasa kasih. Lukisan tentang keindahan alam pun juga digunakan dengan tembang dhandanggula.
2) Sinom, yang bermakna muda, mengisyaratkan suasana dunia lingkungan muda remaja yang bersuasana riang, ceria, ramah, menyenangkan, melahirkan rasa cinta kasih dan menyampaikan amanat dan nasehat serta menguraikan ilmu.
3) Kinanthi, mengandung sifat kemesraan, ungkapan rasa rindu, nasehat ringan, memaparkan perasaan riang dan sebagainya.
4) Pangkur, mengungkapkan suasana yang memuncak, bersungguh-sungguh, ajaran yang serius atau penyampaian rasa rindu asmara.
5) Asmaradana, mengungkapkan makna sedih, prihatin, memendam rasa rindu ataupun pernyataan rayuan.
6) Mijil, menghantarkan suasana memberi nasehat, melahirkan perasaan sedih atau rasa rindu.
7) Gambuh, mengandung rasa akrab. Dipakai untuk menyampaikan nasehat yang bersungguh-sungguh atau pesan yang santai, akrab.
8) Pocung, mengetengahkan perasaan santai, kendor dalam pengertian tidak tegang, jenaka dan riang atau nasehat yang disampaikan secara akrab.
9) Durma, bersuasana keras, kasar, tegang, mengungkapkan rasa marah, gambaran peperangan yang serba tegang atau nasehat yang keras.
10) Megatruh, mengisyaratkan suasana yang penuh sedih, sendu, duka, penyesalan, kepedihan, hati merana dan lain-lain.
11) Maskumambang, tembang ini melukiskan perasaan prihatin, duka, lara, iba, resah dan gundah.
12) Jurudemung, tembang tengahan ini lazim dikelompokkan bersama tembang macapat. Bentuk tembang ini dipakai untuk menghantar suasana yang bersifat ringan, hiasan, pujian.
13) Wirangrong, untuk merangkum suasana sedih, haru serta pengungkapan suasana resah dan susah.
14) Balabak, dipakai untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat jenaka dan riang.
15) Girisa, tembang ini dipakai untuk mencerminkan suasana penuh harapan, nasehat-nasehat yang perlu dipatuhi. (Dikembangkan dari Purna dkk, 1996:6-7).
Yudayana (1984: 132), mengelompokkan tiga jenis tembang atas tembang macapat atau tembang alit, tembang tengahan dan tembang gedhe. Tembang macapat paling dikenal, banyak digemari dan mudah dipelajari. Ranggawarsita (1957:38) menyatakan bahwa macapat adalah tembang cilik. Tembang lainnya adalah tembang tengahan dan tembang gedhe. Ia mengelompokkan tembang macapat sebanyak delapan buah. Jumlah itu termasuk tembang macapat murni. Hardjawiraga (1989: 28), menggabungkan 15 tembang ke dalam kelompok tembang macapat dengan melibatkan tembang tengahan. Lima belas tembang itu adalah:
1) Dhandanggula : 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a
2) Sinom : 8a, 8i, 8a, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a
3) Kinanthi : 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i
4) Pangkur : 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 5a, 8i
5) Asmaradana : 8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a
6) Mijil : 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u
7) Gambuh : 7u, 10u, 12i, 8u, 8o
8) Pocung : 12u, 6a, 8i, 8a
9) Durma : 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i
10) Megatruh : 12u, 8i, 8u, 8i, 8o
11) Maskumambang : 12u, 6a, 8i, 8a
12) Jurudemung : 8a, 8u, 8u, 8a, 8u, 8a, 8u
13) Wirangrong : 8i, 8o, 10u, 6i, 7a, 8a
14) Balabak : 12a, 3e, 12a, 3e, 12a, 3e
15) Girisa : 8a, 8a, 8a, 8a, 8a, 8a, 8u/i/e
Masing-masing tembang tersebut di atas memiliki sejumlah cengkok (gaya lagu). Hal ini dimungkinkan karena pola pikir kebudayaan Jawa sangat memperhatikan kepribadian orang-seorang, sehingga masing-masing individu dalam masyarakat Jawa mendapatkan harga dan nilai yang terhormat, namun tidak liberal. Dhandanggula misalnya mengenal 17 cengkok. Suratno Adiyoso menggolongkan tembang macapat dan tembang tengahan sebanyak 15 buah ke dalam satu kelompok, mengutip dari penggabungan Hardjawiraga (1989: 28). Karsono H. Saputra (1992:47) menjumlahkan jenis tembang macapat yang digabung dengan tembang tengahan sebanyak 15 tembang.[7] Sulitnya membedakan antara tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhe bagi generasi sekarang dan selanjutnya maka penulis setuju apabila semua tembang yang ada dalam sastra Jawa digabung menjadi satu dengan nama tembang macapat yang hingga ada 15 tembang sebagaimana yang dijelaskan di atas. Dari berbagai jenis tembang tersebut sebagian besar mengandung nilai-nilai pendidikan khususnya Islam.
2. Makna Teks Tembang Macapat yang Mengandung Nilai Pendidikan Islam
Sebagai salah satu jenis kesenian, macapat merupakan hasil karya cipta sastra yang penyampaiannya disuarakan/dilagukan. Oleh karena disuarakan maka penyajian karya itu melibatkan seni vokal dan seni karawitan, sebab penyajian vokalnya menjelajahi nada-nada suara gamelan yang berlaraskan sendro dan pelog.
Macapat berperan di dalam kehidupan sehari-hari, untuk rengeng-rengeng, ura-ura, pengisi waktu senggang, pengankal kesepian, penawar lelah, penahan kantuk dan sebagainya. Ia menjadi salah satu bentuk ungkapan seni dan ikut serta di dalam upacara adat, misalnya:
(1) selamatan tujuh bulan kehamilan,
(2) kelahiran,
(3) khitanan,
(4) perkawinan, dan
(5) tolak balak, dan sebagainya.
Berbagai makna dan suasana yang tersurat dihantarkan oleh tembang macapat untuk menyampaikan pesan atau amanat yang terkandung. Kandungan pesan tersusun dalam bentuk ikatan kata yang hangat dan akrab tanpa mengabaikan kaidah atau patokan yang berlaku. Amanat yang tersirat dalam macapat, misalnya:
1) Pesan orang tua kepada anak cucu seperti terungkap di dalam Serat Wulangreh, Paliatma, Sana Sunu, Warayagnya, Wulangputri, Darmaduhita, dan lain-lain.
2) Ajaran kepada prajurit, terungkap pada Serat Tripama dan Serat Wiraiswara.
3) Ajaran kepada para punggawa, tersirat di dalam Serat Nayakawara.
4) Ajaran agama yang terkandung di dalam Serat Cabolek, Dewaruci, Serat Centhini.
5) Ajaran bagi seorang raja termuat di dalam Sastracetha dan Asthabrata serta Serat Tajussalatin.
6) Ajaran etika tersebut di dalam Serat Wulangreh, Serat Salokadarma, Kutipan dari Babab Tanah Jawi dan lain-lain.
7) Rayuan kepada wanita, terungkap di dalam Serat Manuhara.
8) Pesan dalam bentuk teka-teki dan kelakar beruba tembang Pocung.
9) Lukisan keindahan alam.
10) Penyambutan tamu yang terlukis dalam Panembrama.
11) Tolak balak, terungkap di dalam Serat Kidungan.
12) Memberi berkah terdapat dalam Serat Yusuf.[8](Dikembangkan dari Purna dkk, 1996:8-9).
Selain pesan-pesan yang tersebut di atas, tembang macapat pun mampu menyampaikan pesan yang terkandung di dalam dunia pendidikan Islam.
3. Relevansi Nilai Pendidikan Islam Dalam Teks Tembang Macapat Dengan Perkembangan Sistem Pendidikan Sekarang
Contoh dua bait Tembang Dhandhanggula yang syarat mengandung nilai pendidikan, yaitu:
Pawitane wong urip puniki, pan sadasa lamun datan bisa, nistha kuciwa dadine, dhihin karem ing ngelmu, kaping kalih bisa angaji, ping tiga bisa maca, ping sakawanipun, kudu ahlul anenurat, kaping lima wignya anitih turanggi, ping name bisa beksa.(Sumber: Serat Sastra Gending). Modalnya orang hidup ini, ada sepuluh kalau ada usaha. Akan celaka kalau tidak memiliki. Bersemangat menimba ilmu. Yang kedua dapat mengaji. Ketiga dapat membaca. Yang keempatnya. Harus ahli menulis. Kelima harus lincah menunggang kuda. Keenam dapat beksa/menari. Bait selanjutnya:
Kaping pitu kudu wruh ing gendhing, kaping wolu apan kudu bisa, tembung kawi tembang gedhe, ping sanga bisa iku, ulah yuda gelaring jurit, limpad pasanging graita, ping sadasanipun, wong urip wekasan lena, den prayitna ing pati, pati patitis, patitis ing kamuksan.(Serat Sastra Gending) Yang ketujuh tahu terhadap gendhing/lagu. Kedelapan kalau ada kesempatan mengusahakan. Menguasai bahasa kawi bahasa gedhe (kemampuan berbahasa). Yang kesembilan kalau dapat. Keahlian perang dan keprajuritan. Terampil cekatan menggunakan pancaindera. Yang kesepuluhnya. Orang hidup akhirnya terlena. Harus mengkonsentrasikan terhadap mati yang patitis. Patitis dalam kemuksaan (husnul khotimah).
Keterangan: dua bait tembang dhandhanggula di atas walaupun dua bait tetapi merupakan satu tema sehingga dalam menyanyikannya juga harus bersambung.
Kalau kita menyimak dan dapat melantunkan tembang dandanggula di atas sekaligus dapat mengambil makna kandungannya baik yang tersurat maupun tersirat, kita akan merasakan betapa agung sekaligus indah nasehat yang tertera dalam dua bait tembang di atas. Tembang di atas tidak mungkin ditulis kecuali oleh orang yang sangat arif bijaksana, ahli dalam berbagai bidang ilmu termasuk bidang seni dan keprajuritan sekaligus memahami liku-liku makna hidup. Sayang, penulis melacak sampai saat ini belum ketemu, siapa pennyusun kedua bait lagu tersebut dan dimana buku yang pertama tertulis dua bait tembang macapat tersebut. Hanya dugaan penulis hingga saat ini menduga bahwa dua bait dandanggula tersebut disusun oleh Sri Paku Buwana IV dan KGPAA Mangku Negara IV.
Kehebatan yang terkandung dalam dua bait dandanggula tersebut mengingat jauh sebelum tersusun berbagai tujuan pendidikan nasional dalam berbagai undang-undang dan peraturan, yang terakhir sebagaimana tertera dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[9].
Dalam tembang di atas ada sepuluh modal hidup ini agar bahagia dunia akhirat, barangsiapa yang tidak memilikinya akan celaka hidupnya. Kesepuluh modal hidup itu, yaitu: (1) bersemangat mencari ilmu, (2) dapat mengaji, (3) dapat membaca, (4) dapat menulis, (5) lincah menunggang kuda, (6) dapat beksa/menari, (7) mengetahui dan ahli terhadap gendhing/lagu, (8) kalau ada kesempatan mengusahakan menguasai bahasa kawi bahasa gedhe (kemampuan berbahasa), (9) memiliki keahlian dalam bidang perang dan keprajuritan yang didukung ketrampilan dan kecekatan menggunakan pancaindera, dan (10) Harus mengkonsentrasikan terhadap mati yang patitis untuk mencapai kemuksaan (husnul khotimah).
Dalam penelitian ini juga dipaparkan satu tembang macapat dalam Serat Wulang Reh yang disusun oleh Sri Paku Buwana IV yang mengandung nilai pendidikan Islam. Makna yang tersurat maupun tersirat dalam tembang tersebut adalah nasehat betapa pentingnya memilih guru, apalagi guru yang akan dijadikan panutan tingkah laku dan pembimbing kehidupan (guru sejati), sebagaimana dalam tembang dandanggula berikut:
Nanging yen sira ngeguru kaki, Amiliha manungsa kang nyata, Ingkang becik martabate, Sarta kang wruh ing kukum, Kang ngibadah lan kang wirangi, Sukur oleh wong tapa, Iya kang wus mungkul, Tan mikir piwewehing liyan, Iku pantes sira guronana kaki, Sartane kawruhana. (Serat Wulang Reh, IS PB IV, 1788-1820).
Artinya: Apabila engkau akan berguru putraku, pilihlah orang yang betul-betul pantas/jelas, yang baik martabatnya, serta tahu dan taat pada hukum (syariat agama dan undang-undang), tekun beribadah serta menjaga kehormatannya (wira’i) takut kepada Allah dan taat kepada perintah-Nya. Syukur apabila kau dapatkan orang yang suka bertapa, yaitu orang yang sudah meninggalkan segala nafsu duniawi, dan tak mengharap pemberian dari orang lain (peserta didik). Orang yang demikian itu pantas kau jadikan guru wahai putraku sebagai sarana bertambahnya pengetahuanmu[10].
Hal itu sesuai dengan pesan al-Qur’an, yaitu:
Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. S.Ali Imran: 164)
Dari salah satu bait tembang dandanggula di atas menunjukkan bahwa tembang macapat memiliki nilai-nilai pendidikan Islam yang tinggi di samping nilai-nilai sastra maupun seninya.
J. Kesimpulan
Pertama, teks-teks tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam tercantum di hampir semua jenis tembang macapat, meliputi: Dhandanggula, (2) Sinom, (3) Kinanthi, (4) Pangkur, (5) Asmaradana, (6) Mijil, (7) Gambuh, (8) Pocung, (9) Durma, (10) Megatruh, (11) Maskumambang, (12) Jurudemung, (13) Wirangrong, (14) Balabak, dan (15) Girisa. Dari sejumlah tembang macapat yang paling banyak mengandung nilai-nilai pendidikan Islam, yaitu: Dhandandanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur dan Mijil. Dari sejumlah tembang Dhandanggula yang paling popular dikenal masyarakat luas yang mengandung nilai pendidikan Islam yaitu Dhandanggula. Hal itu sesuai dengan penelitian selama ini tembang dhandanggula banyak ditembangkan oleh mubaligh-mubaligh di berbagai forum pengajian.
Kedua, makna yang tersurat maupun tersirat dalam teks-teks tembang macapat yang mengandung nilai pendidikan Islam meliputi: (1) pendidikan ketauhidan, (2) pendidikan peribadatan, (3) pendidikan berfikir, (4) pendidikan perasaan/teposliro, (5) pendidikan akhlak/tingkah laku, (6) pendidikan kemasyarakatan, (7) pendidikan tentang jalan hidup, (8) pendidikan olahkanuragan, dan (9) pendidikan berumahtangga, (10) pendidikan dalam pekerjaan, (11) pendidikan keprajuritan, keperwiraan dan olahkaprajan.
Ketiga, nilai pendidikan Islam dalam teks tembang macapat banyak yang relevan dengan nilai pendidikan yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Hal itu mengingat bahwa sebagian besar penulis tembang macapat adalah para ulama, cerdik cendkiawan dan para sastrawan yang memiliki pemahaman Islam yang mendalam. Demikian juga nilai-nilai pendidikan yang ada dalam tembang macapat banyak yang sesuai dengan ungkapan para sahabat, ulama, maupun isi mahfudhat seperti kesungguhan dalam belajar, kesabaran, istiqomah, kerendahan hati dan sebagainya.
Serta apabila kita kaitkan dengan konsep pendidikan modern, maka kandungan makna nilai pendidikan dalam tembang macapat sangat relevan dengan 7 Kebiasaan menurut Stephen R. Covey (2002: 1-2), yaitu: (1) Jadilah Proaktif, (2) Merujuk Pada Tujuan Akhir, (3) Dahulukan Yang Utama, (4) Berpikir Menang/Menang, (5) Berusaha Untuk Memahami, (6) Wujudkan Strategi, dan (7) Mengasah Gergaji. Intinya pada first things first (dahulukan yang utama). The power principle (prinsip kebenaran).
Keempat, secara keseluruhan nilai-nilai pendidikan Islam yang termaktub dalam tembang macapat apabila dirinci maka sesuai dengan konsep pendidikan (tarbiyah) Ibnu Qayyim yang meliputi 9 sasaran, yaitu: (1) tarbiyah imaniyah (pendidikan keimanan), (2) tarbiyah ruhiyah (pendidikan ruh), (3) tarbiyah fikriyah (pendidikan berfikir), (4) tarbiyah athifiyah (pendidikan perasaan), (5) tarbiyah khuluqiyah (pendidikan akhlak), (6) tarbiyah ijtimaiyah (pendidikan kemasyarakatan), (7) tarbiyah iradiyah (pendidikan kehendak/motivasi), (8) tarbiyah badaniyah (pendidikan badan), dan (9) tarbiyah jinsiyah (pendidikan sex). Kandungan nilai pendidikan dalam tembang macapat tentunya patut dijadikan kajian dan landasan oleh para ahli pendidikan sekarang ini untuk dipadukan dengan berbagai konsep pendidikan klasik maupun modern dalam upaya mensinergiskan penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan Islam dalam upaya membangun sistem pendidikan Islam yang kokoh berakar pada budaya nasional, lokal, maupun internasional.
DAFTAR PUSTAKA
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1973.
Amir Rochyatmo, Tembang Macapat yang Tersurat dan Tersirat. Jakarta. Tt.
Budya Pradipta, Kehidupan Macapat di Propinsi Jawa Tengah, Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Depdikbud, 1993/1994.
Darmanto Jatman, Psikoterapi Jawa, dalam acara Seminar Nasional dan Monolog “Menjadi Indonesia dengan Budaya Sendiri” pada Rabu, 21 Maret 2007 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi UIN Malang.
Endah Susilantini, Mumfangati, Suyami, Konsep Sentral Kepengarangan KGPAA Mangkunegara IV. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1997.
Gericke en Roorda, Javaansch-Nederlansch Handwoordenboek, deel I & II, 1910.
Mac Donall, A Practical-Sanskrit dictionary. London: Oxford university Press, Humphrey Milford, 1924.
I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, Macapat dan Gotong Royong, Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996.
John Naisbitt & Patricia Aburdene, Megatrends 2000. London: Sidgwick, 1990.
Karseno Saputra, Pengantar Sekar Macapat, Universitas Indonesia, 1992.
Koentjaraningrat, Sistem Gotong Royong dan Jiwa Gotong Royong, Berita antropologi, Th. IX, No. 30 Lembang antropologi FSUI dan Yayasan Perpustakaan Nasional Jakarta, 1977.
Mulyono, Kumpulan Lagu (Religius, Anak-Anak, Daerah, Campursari, Pop, Dll.), Malang: UIN Malang Fakultas Tarbiyah, 2006.
Niels Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa (Kelangsungan dan Perubahan Kulturil), Alih Bahasa, Drs. Alois A. Nugroho, Jakarta: Gramedia, 1984, Judul asli Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java, Cultural Persistence and Change. Diterbitkan oleh Singapore University Press.PJ. Zoetmulder, Melestraikan Pancasila dengan Lagu Tembang Jawa, Jakarta: BP7 Pusat, 1982.
Purwadi, Nilai Filosofis Serat Bima Suci, Kejawen, Jurnal Kebudayaan Jawa, Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Fakultas Bahasa Seni Universitas Negeri Yogyakarta Bekerjasama dengan Penerbit Yogyakarta, Vol. 1. No. 1 September 2005.
Rama Sudi Yatmana, Tuntunan Kagem Para Panatacara Tuwin Pamedar Sabda, Semarang: Aneka Ilmu, 1989.
Rama Sudi Yatmana, Tuntutan Kagem Para Panatacara Tuwin Pemedhar Sabda. Semarang: Aneka Ilmu, 1992.
Ronggowarsito, Wirid Hidayat Jati, gubahan R. Tanojo, Surabaya: Trimurti, tt.
Sartono Kartodirdjo, dkk. Beberapa Segi Etika dan Etiket Jawa. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Bagian Jawa.
Siti Dloyana Kusumah, dkk., Kajian Nilai Budaya Naskah Kuno Sekartaji, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.
Soesilo, Kejawen Fhilosofi & Perilaku. Malang: Yayasan Yusula, Cetakan Keempat, 2005.
Soesilo, Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa. Jakarta Selatan: Yayasan Yusula, 2005.
Tim Penyusun Buku Agama PW LP Maarif NU Jawa Timur, Pendidikan Aswaja & Ke-NU-an Untuk MA/SMU/SMK Kelas 1. Surabaya: PW LP Maarif NU Jawa Timur.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Bandung: Citra Umbara, 2003.
Zahara Idris & Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992.Hasan bin Ali Al-Hijazy, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim, Terj. Muzaidi Hasbullah (Jakarta Timur, Pustaka Al-Kausar, 2001).
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adhiem. (Mesir, Maktabah Mesir, tt)
Mulyono, MA. Ringkasan Ceramah Syekh Sudaisy di Masjid Abu Bakar Dieng Malang (Malang, 2005).
Stephen R. Covey, Living The 7 Habits (Menerapkan 7 Kebiasaan dalam Kehidupan Sehari-Hari). Alih Bahasa: Drs. Arvin Sapurna. (Jakarta, Binarupa Aksara, 2002)
1[1] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, Macapat dan Gotong Royong, Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996. Hal. 3
[2] John Naisbitt & Patricia Aburdene, Megatrends 2000. London: Sidgwick, 1990.
[3] H. Karseno Saputra, Pengantar Sekar Macapat, Universitas Indonesia, 1992.Hal. 8.
[4] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, Of. Cit, Hal. 3.
[5] Budya Pradipta, Kehidupan Macapat di Propinsi Jawa Tengah, Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Depdikbud, 1993/1994.
[6] Prof. Dr. Madyo Ekosusilo, M.Pd., Ibid, Hal. 38.
[7] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, 1996, Of. Cit, Hal. 7-8.
[8] Drs. I Made Purna, dkk. Macapat dan Gotong Royong, 1996, Of. Cit, Hal. 8-9.
[9] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Bandung: Citra Umbara, 2003 Hal. 7.
[10] Drs. Soesilo, Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa. Jakarta Selatan: Yayasan Yusula, 2005, Hal. 218-219.